Minggu, 01 Februari 2015

Tentang Cinta







Cinta memang bukan perkara baru lagi di telinga kita. Kehidupan tergerak, denyut nadi perjuangan terhempas dan pengorbanan menjadi  ringan saat cinta menjelma, dan merasuk kedalam jiwa. Cinta memang dahsyat, menjadi penerang saat hati diterpa kegundahan. Obat penyejuk di tengah gersangnya gurun kehidupan. Namun siapa sangka, oleh karena cinta pula banyak orang terjerembab, melalaikan untuk apa ia diciptakan hingga ingkar kepada Allah. Dzat yang seharusnya menjadi labuhan dan tambatan akhir dari setiap jengkal cinta.

Sebagai manusia kita tak akan mungkin terlepas dari cinta. Kurang bijaksana bila kita menutup mata untuk tidak mengetahui seluk beluk tentang cinta. Apalagi saat cinta itu menyapa, menyemai benih dalam lubuk jiwa. Jangan berusaha menyembunyikannya atau sok tidak merasakannya, karena cinta memang fitrah pemberian Allah yang harusnya kita jaga dan pelihara sesuai sunnah NabiNya Atau kebablasan dalam menyikapinya sehingga terjerumus dalam lembah dosa. Astagfirullah!

Manusia adalah makhluk yang sempurna. Dalam sifat sempurnanya itu, terdapat hati yang berfungsi untuk merasakan. Dengan keajaiban yang diberikan Allah ta’ala, hati terkadang bisa mendorong mata untuk menangis dan bibir untuk tersenyum. Di hati inilah perasaan cinta itu hadir. Dengan hati inilah, manusia berhak untuk merasakan cinta, dicintai dan mencintai.

Pertanyaannya kemudian, Apakah cinta itu? Kapan harus mencintai dan kapan menjadi seseorang yang dicintai? Nampaknya pertanyaan ini cukup membuat kita tertarik untuk mendalaminya lebih lanjut. Kalau ditanya cinta itu apa, mungkin jawaban yang bisa diberikan adalah bahwa cinta adalah fitrah manusia. Sebagian orang berpendapat bahwa cinta itu ibarat madu sekaligus racun. Disatu sisi cinta dapat membawa manfaat sekaligus kebahagiaan luar biasa. Namun disisi lain, cinta dapat berubah menjadi hal yang berbahaya, tercela bahkan membawa penderitaan.

Sebagian orang berpendapat, cinta identik dengan nafsu. Bahkan mereka berpendapat   cinta itu tidak bisa terlepas atau sengaja dinafikan dari nafsu. Benarkah ini?
Manusia diberi akal sebagai kelebihan dan keistimewaan dari makhluk lain, maka sebaiknya kita pergunakan akal dengan sebaik-baiknya dalam menempatkan nafsu di dalam cinta dan berpikir serta merenungi perasaan di dalam dada berdasarkan akal sehat, bukannya berpikir dan merasa berdasarkan hawa nafsu.

Nafsu bak bunga-bunga penghias cinta dan salah satu pengungkap perasaan,agar membuat cinta itu tetap awet dan bisa bertahan dalam keharmonisan . Bukankah dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia dihiasi dengan nafsu syahwat terhadap wanita, anak serta harta benda dan segala kemewahan.
Allah berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran[3]: 14)

Islam sendiri pun telah mengakui eksistensi cinta terhadap lawan jenis. Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri manusia. Akan tetapi,cinta itu harus dijaga dan dilindungi dari kehinaan. Cinta pada lawan jenis bukan sesuatu yang kotor. Bahkan ia adalah sesuatu yang suci. Dan pernikahan adalah “Bingkai” yang dapat menjaga kesuciannya. 

Ibnu Qayyim Al- Jauziyyah pernah berkata tentang cinta suci. Cinta suci dari seorang laki-laki yang suci, yang tidak menginginkan agama dan kesucian darinya serta pribadinya menjadi rusak. Dia juga tidak ingin hubungan antara dirinya dengan Allah menjadi renggang. Inilah cinta orang-orang salaf yang mulia.

Ungkapan seorang pria yang mencintai seorang wanita. “Sesungguhnya saya mencintainya karena Allah dan saya ingin agar cinta yang benar di hadapan Allah”. Untuk membingkai cintanya agar ia tetap suci sesuai fitrahnya, lalu sang pria  berusaha dan bersungguh-sungguh menikahinya dengan cara yang di Ridhai Allah. Subhannallah

Menurut Imam Ibnu al-Jauzi, “Kecintaan, kasih sayang, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela serta tak perlu dibuang. Namun, cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya. Inilah yang membuatnya menjadi tercela.

Quote untuk yang takut mengakui cintanya. “ Cinta menyakitkan bila Anda putuskan hubungan dengan seseorang. Itu malah lebih sakit lagi bila seseorang memutuskan hubungan denganmu. Tapi cinta paling menyakitkan bila orang yang kau cintai sama sekali tidak mengetahui perasaanmu terhadapnya.

Ada sebuah puisi sebagai penutup.

Sering nampak ketika fajar usai tenggelam
Pesona keutuhan lingkup melingkar
Meski redup dia tunjukkan terang
Dalam gelap, iringan ketika petang
Kadang utuh, kadang berkurang
                Dalam malam dia ditemani bintang
                Dalam bayang, dia dipandangi awan
                Putaran Rotasi-Nya yang akan menentukan
                Atas karunia- Nya semua terciptakan
                Dalam fitrah, terkandung suatu keagungan
                Menjaga setiap kemungkinan
Dalam keadaan rasa tak terduga datang
Setiap doa menentukan keutuhan rasa
Harapan rasa untuk bisa mendekatkan kepada-Nya
Tujuan mulia agar di Ridhoi- Nya
Selalu menjaga keutuhan cinta- Nya
Agar dalam penantian, cahaya kan menjemputnya
Tentu saja semua atas ridho-Nya
Ridho Tuhan alam semesta

1 komentar:

  1. Bener, antara cinta lawan jenis dan nafsu akan berbarengan, maka hiasilah nafsu itu dengan keimanan. Jikapun kita mencintai lawan jenis maka cukup tuhanmu saja yang tau, jika kau lelaki maka datangi walinya, jika kau wanita maka kadukan saja padaNya, biar tuhan yang atur segalanya. Suara hati akan sampai pada sang empu hati tujuan. Namun, alangkah indahnya jika kau komitmen bahwa cinta hanya untuk dia seorang 'yang entah siapa' cukuplah cinta yang berpakaian nafsu itu hanya untuk kekasih halalmu saja, agar segala sesuatu lebih terasa indah,, *eeeaaaa

    BalasHapus