Kesalahan termasuk sebuah realitas.
Mengapa harus membenamkan kepala bila pernah menegakkan kepala? Merasa bersalah
karena berbuat salah itu wajar, asalkan tidak berlebihan. Malu adalah perisai keluhuran
budi manusia. Tetapi, kita jangan malu-maluin. Atau lebih parahnya kita tak
tahu malu. Bila demikian, lumrahkah jika kita pernah melakukan kesalahan?
Iya, sekali-kali berbuat salah
dianggap sah-sah saja, asalkan tidak terlalu sering melakukannya. Sebab, hal itu
akan mempengaruhi penilaian orang lain terhadap kita. Ia akan mengira bahwa
kita adalah orang yang ceroboh. Maka, bukanlah sesuatu yang memalukan bila kita
menyadari telah melakukan sebuah kesalahan.
Sayangnya, tidak sedikit yang merasa
kecewa dan teramat malu setelah menyadari kesalahan yang diperbuat. Tipikal
orang seperti ini terlalu membesar-besarkan masalah. Terkait itu, kita perlu
memahami bahwa setiap kesalahan tidak pernah diharapkan terjadi. Namun,
semuanya tetap terjadi lantaran kita adalah manusia, bukan malaikat. Lantas,
apa yang harus kita perbuat setelah melakukan kesalahan?
Seusai berbuat salah, kita haru
memperbaiki kesalahan tersebut. Tak ada cara lain yang tepat. Dan tidak ada
alasan lain yang lebih pantas selain memperbaikinya. Tetapi, apakah hal ini
tidak berarti bahwa kita membuka aib sendiri?
Aib? Siapa bilang mengakui kesalahan
merupakan sebuah aib? Kitajangan terlalu membesar-besarkan masalah. Justru,
sikap seperti itulah yang mencerminkan ketidakmampuan kita dalam mengatasi
sebuah masalah.
Kesalahan adalah proses pembelajaran
untuk menjadi lebih baik. Tanpa berbuat kesalahan sedikit pun, orang lain
justru curiga terhadap kita. Aneh bukan? Iya , memang terasa sangat ganjil bila
kita mendapati seseorang yang pekerjaannya nyaris sempurna seratus persen. Jika
yang kita maksud adalah malaikat, maka mungkin benar adanya. Sayangnya, kita
tidak sedang mendiskusikan dunia malaikat. Melainkan, membahas tentang dunia
nyata. Bila kita pernah melakukan kesalahan, maka segeralah perbaiki.
Kesadaran tersebut sangat pengting
untuk menjaga kesinambungan produktivitas. Jika kita membiarkannya terus
berlarut-larut, justru sangat merugukan kita. Sebab, terlalu banyak yang
dikorbankan. Cost-nya terlalu besar bila kita membiarkan sebuah kesalahan
berkembang menjadi masalah baru. Maka, jangan pernah menganggap enteng sebuah
masalah kecil.
Biasanya, api yang besar disulut dari
cipratan bunga api. Dan api yang besar susah dipadamkan. Inilah masalah yang
sebenarnya. Maka bersikaplah secara wajar. Tinjaulah kembali segala sesuatu
agar kita dapat mengetahui peristiwa yang terjadi. Koreksi dan instropeksi diri
adalah kata kunci yang tepat dalam hal ini. Oleh karena itu, janganlah lari
dari kesalahan. Namun, segeralah berlari mencari cara penyebab kesalahan
tersebut. Semangat kawan!
“Al Mutannabi berkata, Masalah kecil menjadi besar di mata orang
yang kecil, sedangkan masalah besar menjadi kecil di mata orang yang besar”

Nice, selalu belajar menjadi lebih baik dari setiap kesalahan, ganbate :D
BalasHapus