Rabu, 18 Februari 2015

Laut Mana Yang Tak Berombak, Bumi Mana Yang Tak Kena Hujan



Kesalahan termasuk sebuah realitas. Mengapa harus membenamkan kepala bila pernah menegakkan kepala? Merasa bersalah karena berbuat salah itu wajar, asalkan tidak berlebihan. Malu adalah perisai keluhuran budi manusia. Tetapi, kita jangan malu-maluin. Atau lebih parahnya kita tak tahu malu. Bila demikian, lumrahkah jika kita pernah melakukan kesalahan?
 
Iya, sekali-kali berbuat salah dianggap sah-sah saja, asalkan tidak terlalu sering melakukannya. Sebab, hal itu akan mempengaruhi penilaian orang lain terhadap kita. Ia akan mengira bahwa kita adalah orang yang ceroboh. Maka, bukanlah sesuatu yang memalukan bila kita menyadari telah melakukan sebuah kesalahan.

Sayangnya, tidak sedikit yang merasa kecewa dan teramat malu setelah menyadari kesalahan yang diperbuat. Tipikal orang seperti ini terlalu membesar-besarkan masalah. Terkait itu, kita perlu memahami bahwa setiap kesalahan tidak pernah diharapkan terjadi. Namun, semuanya tetap terjadi lantaran kita adalah manusia, bukan malaikat. Lantas, apa yang harus kita perbuat setelah melakukan kesalahan?

Seusai berbuat salah, kita haru memperbaiki kesalahan tersebut. Tak ada cara lain yang tepat. Dan tidak ada alasan lain yang lebih pantas selain memperbaikinya. Tetapi, apakah hal ini tidak berarti bahwa kita membuka aib sendiri?

Aib? Siapa bilang mengakui kesalahan merupakan sebuah aib? Kitajangan terlalu membesar-besarkan masalah. Justru, sikap seperti itulah yang mencerminkan ketidakmampuan kita dalam mengatasi sebuah masalah.
Kesalahan adalah proses pembelajaran untuk menjadi lebih baik. Tanpa berbuat kesalahan sedikit pun, orang lain justru curiga terhadap kita. Aneh bukan? Iya , memang terasa sangat ganjil bila kita mendapati seseorang yang pekerjaannya nyaris sempurna seratus persen. Jika yang kita maksud adalah malaikat, maka mungkin benar adanya. Sayangnya, kita tidak sedang mendiskusikan dunia malaikat. Melainkan, membahas tentang dunia nyata. Bila kita pernah melakukan kesalahan, maka segeralah perbaiki.

Kesadaran tersebut sangat pengting untuk menjaga kesinambungan produktivitas. Jika kita membiarkannya terus berlarut-larut, justru sangat merugukan kita. Sebab, terlalu banyak yang dikorbankan. Cost-nya terlalu besar bila kita membiarkan sebuah kesalahan berkembang menjadi masalah baru. Maka, jangan pernah menganggap enteng sebuah masalah kecil.

Biasanya, api yang besar disulut dari cipratan bunga api. Dan api yang besar susah dipadamkan. Inilah masalah yang sebenarnya. Maka bersikaplah secara wajar. Tinjaulah kembali segala sesuatu agar kita dapat mengetahui peristiwa yang terjadi. Koreksi dan instropeksi diri adalah kata kunci yang tepat dalam hal ini. Oleh karena itu, janganlah lari dari kesalahan. Namun, segeralah berlari mencari cara penyebab kesalahan tersebut. Semangat kawan!

“Al Mutannabi berkata, Masalah kecil menjadi besar di mata orang yang kecil, sedangkan masalah besar menjadi kecil di mata orang yang besar

1 komentar:

  1. Nice, selalu belajar menjadi lebih baik dari setiap kesalahan, ganbate :D

    BalasHapus