Awal bulan lalu saya resign dari
tempat kerja. Rasanya sedih berpisah dengan mereka yang pernah satu team dengan
saya, tetapi dibalik itu saya bisa kembali
mengajar mengaji anak-anak didesa dan melihat canda tawa mereka membuat saya
turut bahagia. Selama saya bekerja disebuah perusahaan rasanya jarang sekali
bisa mengajar dan bercerita dengan mereka lagi. Kadang diri ini berpikir,
apakah hanya saya seorang pemuda di desa ini yang peduli dengan Panji-Panji Islam ini. Ya,
semuanya sibuk dengan urusan masing-masing dan hanya memperhatikan diri
sendiri. Tak melihat sekitar apakah mereka butuh kita. Sayang sekali untuk
mengajar ngaji saja, desa kami ini mendatangkan bantuan seorang ustad dan
isterinya serta saya seorang. Bayangkan saja 40an anak, jika saya sendiri yang
mengajar mau selesai sampai jam berapa. Miris memang melihat ketidakpedulian
muda mudi disini. Lebih tepatnya mereka telah tergerus arus zaman globalisasi
ini.
Keadaan ini sangat berbanding
terbalik dengan masa kanak-kanak saya dulu, ketika itu paling tidak sepuluh
orang pemuda asli sini mengajar adik-adiknya baca tulis Al-Quran. Saya sendiri
terharu melihat anak-anak yang semangat sekali untuk mengaji, apalagi mereka
begitu antusias saat kami mengadakan acara kado silang bersama.
Kalau bukan kita siapa lagi yang
akan peduli dengan “Tunas Muda”
Panji-panji Islam di negara kita tercinta ini.
Ya, Sangat penting sekali pemahaman agama itu diperkenalkan sejak dini
agar terbentuk generasi robani. Lihat saja fakta negara kita ini yang katanya
sebagai penduduk Muslim terbesar di dunia tapi ternyata dalam prakteknya tak
sedikit yang masih awam. Nilai-nilai islam tak diterapkan dengan benar dalam
kehidupan akibatnya timbul mental yang “bobrok”
yang akan merongrong bangsa ini masa demi masa. Inilah salah satu kekhawatiran
saya dimana kurangnya pengetahuan agama akan membuat pemuda bangsa ini menjadi bebas
melakukan hal yang dianggapnya benar. Bahkan
ketidak benaran sendiri bisa mereka anggap benar.
Jika kita berkaca dengan
peristiwa-peristiwa yang kerab sekali terjadi di negara kita ini, semuanya
hampir bermula dari buruknya pembentukan mental, hingga mudah sekali terombang
ambing oleh dampak negatif globalisasi sendiri. Yang sangat sedikit sekali kita
sadari bahwa bangsa ini mulai mengkhawatirkan kondisi moral generasi bangsa
yang terperangkap dalam kegelapan.
Saatnya kita bergerak Panji-Panji
Islam. Mewujudkan generasi robbani untuk menyongsong bangsa ini menjadi lebih
baik dengan kualitas anak bangsa yang berlandaskan Al Quran dan As Sunnah.
Menjadi generasi robbani sebagai Pribadi yang membentuk diri agar menjadi insan
kamil yang memiliki aqidah, ibadah yang sahih, akhlak yang mantap, pikiran yang
berasaskan ilmu, tubuh yang kuat, berada di jalan jihad, waktu yang dihargai,
dan senantiasa memberi manfaat kepada orang lain.
Generasi robbani yang peka
terhadap kondisi rakyat dan negaranya. Tidak hanya faqih dan ‘alim juga memiliki kesadaran politik yang baik. Sehingga
dapat dikatakan bahwa kita benar-benar peduli dan kontributif terhadap bangsa
dalam semua bidang, mampu menjadi potret manusia yang tidak hanya sibuk dengan
dirinya. Melainkan juga sibuk menebarkan kebaikan untuk umat.
(Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain).[HR.
Ahmad Thabrani]

Enie, kalau bukan kita, siapa lagi?
BalasHapusLanjutkan perjuangan mu, dik :)
kalau bukan kita, siapa lagi?
Hapusiya mba deb. lanjutkannn :)
Eni, jazakillah khairan katsir.
BalasHapuswaiyyak mas rifqy. : )
HapusHebat, menumbuhkan ghiroh berdakwah.
BalasHapusTulisan selanjutnya upaya & langkah konkrit bagi pemuda.
Dakwah itu cinta, menebar cinta dengan berdakwah. : )
Hapussekalipun itu lewat sosial media