Sabtu, 07 Februari 2015

Mari Bergerak Tunas Muda, Panji-Panji Islam Indonesia



        Awal bulan lalu saya resign dari tempat kerja. Rasanya sedih berpisah dengan mereka yang pernah satu team dengan saya, tetapi dibalik  itu saya bisa kembali mengajar mengaji anak-anak didesa dan melihat canda tawa mereka membuat saya turut bahagia. Selama saya bekerja disebuah perusahaan rasanya jarang sekali bisa mengajar dan bercerita dengan mereka lagi. Kadang diri ini berpikir, apakah hanya saya seorang pemuda di desa ini  yang peduli dengan Panji-Panji Islam ini. Ya, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing dan hanya memperhatikan diri sendiri. Tak melihat sekitar apakah mereka butuh kita. Sayang sekali untuk mengajar ngaji saja, desa kami ini mendatangkan bantuan seorang ustad dan isterinya serta saya seorang. Bayangkan saja 40an anak, jika saya sendiri yang mengajar mau selesai sampai jam berapa. Miris memang melihat ketidakpedulian muda mudi disini. Lebih tepatnya mereka telah tergerus arus zaman globalisasi ini.

          Keadaan ini sangat berbanding terbalik dengan masa kanak-kanak saya dulu, ketika itu paling tidak sepuluh orang pemuda asli sini mengajar adik-adiknya baca tulis Al-Quran. Saya sendiri terharu melihat anak-anak yang semangat sekali untuk mengaji, apalagi mereka begitu antusias saat kami mengadakan acara kado silang bersama.
Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan “Tunas Muda” Panji-panji Islam di negara kita tercinta ini.  Ya, Sangat penting sekali pemahaman agama itu diperkenalkan sejak dini agar terbentuk generasi robani. Lihat saja fakta negara kita ini yang katanya sebagai penduduk Muslim terbesar di dunia tapi ternyata dalam prakteknya tak sedikit yang masih awam. Nilai-nilai islam tak diterapkan dengan benar dalam kehidupan akibatnya timbul mental yang “bobrok” yang akan merongrong bangsa ini masa demi masa. Inilah salah satu kekhawatiran saya dimana kurangnya pengetahuan agama akan membuat pemuda bangsa ini menjadi bebas  melakukan hal yang dianggapnya benar. Bahkan ketidak benaran sendiri bisa mereka anggap benar.

      Jika kita berkaca dengan peristiwa-peristiwa yang kerab sekali terjadi di negara kita ini, semuanya hampir bermula dari buruknya pembentukan mental, hingga mudah sekali terombang ambing oleh dampak negatif globalisasi sendiri. Yang sangat sedikit sekali kita sadari bahwa bangsa ini mulai mengkhawatirkan kondisi moral generasi bangsa yang terperangkap dalam kegelapan.

       Saatnya kita bergerak Panji-Panji Islam. Mewujudkan generasi robbani untuk menyongsong bangsa ini menjadi lebih baik dengan kualitas anak bangsa yang berlandaskan Al Quran dan As Sunnah. Menjadi generasi robbani sebagai Pribadi yang membentuk diri agar menjadi insan kamil yang memiliki aqidah, ibadah yang sahih, akhlak yang mantap, pikiran yang berasaskan ilmu, tubuh yang kuat, berada di jalan jihad, waktu yang dihargai, dan senantiasa memberi manfaat kepada orang lain.

         Generasi robbani yang peka terhadap kondisi rakyat dan negaranya. Tidak hanya faqih dan ‘alim  juga memiliki kesadaran politik yang baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa kita benar-benar peduli dan kontributif terhadap bangsa dalam semua bidang, mampu menjadi potret manusia yang tidak hanya sibuk dengan dirinya. Melainkan juga sibuk menebarkan kebaikan  untuk umat.
(Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain).[HR. Ahmad Thabrani]

6 komentar:

  1. Enie, kalau bukan kita, siapa lagi?
    Lanjutkan perjuangan mu, dik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau bukan kita, siapa lagi?
      iya mba deb. lanjutkannn :)

      Hapus
  2. Eni, jazakillah khairan katsir.

    BalasHapus
  3. Hebat, menumbuhkan ghiroh berdakwah.
    Tulisan selanjutnya upaya & langkah konkrit bagi pemuda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dakwah itu cinta, menebar cinta dengan berdakwah. : )
      sekalipun itu lewat sosial media

      Hapus