Ketika Sang
raja sedang asyik bercerita tentang kepahlawanan para panglima perang dan
tentara muslimin di medan jihad, tiba-tiba pelayan raja itu mengabarkan bahwa
ada tamu penting yang hendak menghadap. Sang raja pun berhenti bercerita.
Anaknya yang bernama Said terlihat sangat kecewa lantaran ceritanya berhenti
begitu saja.
Sang raja
mengetahui sesuatu yang dirasakan oleh anaknya. Maka, ia pun memberi nasihat
kepada anaknya, “Anakku, kini saatnya bagimu untuk mencari teman sejati yang
setia denganmu dalam suka dan duka. Seorang teman yang baik akan membantumu
menjadi orang baik. Dan teman sejatilah
yan bisa mengantarkanmu ke surga.
Said bertanya,
“Apa maksud kalimat teman sejatilah yang dapat mengantarkanku ke surga?”
Raja menjawab, “Ia adalah orang yang benar-benar berteman denganmu bukan karena derajatmu, tetapi lantaran kemurnian cinta yang tercipta dari keikhlasan hati. Ia mencintaimu karena Allah Swt. Demikian pula dengan mu, kamu juga mencintainya dengan penuh keikhlasan. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan dahsyat yang akan membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar terang dan mengantarkan kalian menuju surga.
Raja menjawab, “Ia adalah orang yang benar-benar berteman denganmu bukan karena derajatmu, tetapi lantaran kemurnian cinta yang tercipta dari keikhlasan hati. Ia mencintaimu karena Allah Swt. Demikian pula dengan mu, kamu juga mencintainya dengan penuh keikhlasan. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan dahsyat yang akan membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar terang dan mengantarkan kalian menuju surga.
Said bertanya
kembali,”Bagaimana caraku menemukan teman yang seperti itu, Yah?”
Raja menjawab,
“Kamu harus menguji orang lain yang hendak kamu jadikan sahabat, Nak. Caranya,
undanglah siapa saja yang kamu inginkan ke istana ini, lalu ajaklah mereka
makan pagi bersamamu. Ulurlah waktu penyajian makanannya, biarkan mereka
semakin lapar. Lihatlah yang akan mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga butir
telur. Jika ia tetap bersabar,
hidangkanlah telur tadi kepadanya. Cermatilah yang dilakukan mereka. Inilah
cara yang paling mudah bagimu untuk memilih teman sejati.”
Said merasa
sangat senang mendengar nasihat Ayahnya. Ia pun segera mempraktekkan cara
mencari teman sejati. Ia mengundang anak-anak pembesar kerajaan. Sebagian besar
dari mereka marah-marah lantaran hidangan makanan tidak kunjung keluar. Bahkan,
ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal. Ada anak yang memukul meja, dan
ada pula yang melontarkan kata-kata tidak terpuji karena terlalu lama menunggu.
Diantara mereka
ada seorang anak yang bernama Adil. Ia adalah anak seorang menteri. Menurut
Said, Adil ialah anak yang baik hati dan setia. Maka, ia ingin mengujinya.
Akhirnya diundang lah Adil untuk makan pagi di istana. Adil memang terlihat lebih sabar
ketimbang anak-anak lainnya. Ia menunggu hidangan makanan dengan setia. Setelah
dirasa cukup lama, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga butir telur
rebus.
Adil berkata,
“Hanya inikah sarapan pagi kita? Itu tidak cukup untuk mengganjal perutku.”
Adil tidak mau menyentuh telur itu. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Said
sendirian . Said terdiam, ia merasa tidak perlu minta maaf kepada Adil. Sebab
Adil telah meremehkan makanan yang direbus dengan tangannya sendiri.
Pada hari
berikutnya, Said mengundang anak seorang saudagar kaya. Tentunya, anak saudagar
itu begitu senang menerima undang makan pagi dari anak raja. Pada malam hari
sebelumnya, ia membayangkan akan menyantap makanan yang sangat lezat. Oleh
karenanya, ia tidak perlu makan pada malam hari, karena keesokan harinya ia akan
makan sepuasnya.
Keesokan hari
berikutnya, anak saudagar kaya itu sudah sampai di istana. Sebagaimana anak
lainnya, ia harus menunggu lama sampai makanan terhidang di meja makan. Beberapa
lama kemudian, Said mengeluarkan piring yang berisi tiga telur rebus. Ia pun
hendak permisi sebentar ke dalam istana, lalu meninggalkan telur itu di atas
meja makan.
Tanpa menunggu
lama, anak saudagar tadi langsung melahap ketiga telur rebus tanpa menyisakan
satupun sebutir telur. Tidak lama kemudian, Said keluar sambil membawa dua gelas
air putih. Ia melihat piring di meja makan kosong.
“ Semuanya?”
“ Iya, aku
telah menghabiskan semuanya, karena aku sangat kelaparan.”
Atas kejadian
itu, Said mengetahui bahwa anak saudagar itu tak cocok dijadikan sebagai
sahabat sejati. Ia lebih mendahulukan kepentingannya sendiri, tidak setia,
serta tidak bisa merasakan suka dan duka bersama.
Karena usahanya
tidak jua berhasil, Said merasa sangat jengkel dengan kelakuan para anak
pembesar kerajaan dan orang kaya yang dikenalnya. Mereka terlalu mementingkan
diri sendiri dan tidak setia kawan. Said beranggapan bahwa mereka tidak pantas
dijadikan sahabat sejati.
Akhirnya ,
Said memutuskan untuk mencari sahabat dari luar istana. Said mulai berpetualang
menelusuri kampung-kampung dan daerah-daerah terpencil. Setelah lama menjelajah, ia
bertemu dengan anak seorang pencari kayu. Anak itu sedang memanggul kayu bakar.
Said mengikutinya diam-diam sampai anak tersebut tiba di gubuknya. Pakaian dan
gubuknya menunjukkan bahwa ia sangat miskin. Meskipun begitu, matanya
memancarkan kecerdasan tinggi dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu,
lalu shalat dua rakaat. Said terus
memperhatikannya.
Selesai
shalat, Said memberanikan diri untuk menghampiri anak tersebut. Ia pun memperkenalkan
dirinya. Ternyata, anak itu bernama Suhail.
Said bertanya kepadanya, “Shalat apa yang baru saja kamu kerjakan?” Ia
menjawab, “Aku baru saja shalat Dhuha.”
Selanjutnya,
Said meminta kepada Suhail agar mau menemaninya bermain. Namun, Suhail
menolaknya seraya berucap, “Kita tidak cocok berteman, karena kamu adalah anak
orang kaya. Padahal aku anak orang miskin.”
Said berkata, “Kamu
tidak boleh berucap seperti itu. Kita tidak boleh membeda-bedakan orang
lantaran semuanya adalah hamba Allah Swt. Kita sama di hadapan-Nya, kecuali
nilai ketakwaan di sisi-Nya. Aku bukanlah anak yang jahat, dan aku tidak akan
menghinamu. Aku hanya ingin berteman dengan mu.”
Suhail
berucap, “Baiklah kalau begitu, kita berteman. Tetapi, kita harus saling setia.
Maukah kamu menerima tawaranku?” Said menjawab, Tentu saja aku mau.”
Akhirnya mereka menjalin persahabatan. Setiap hari,
mereka bermain bersama. Suhail juga mengajari Said berenang di sungai,
menggunakan panah, memanjat pohon. Said begitu senang berteman dengan suhail.
Seorang anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada, dan setia.
Pada siang
hari, mereka kembali ke gubuk Suhail. Disana hanya ada sepotong roti, garam,
dan air putih. Meskipun seadanya, Said makan dengan begitu lahapnya. Setelah
makan, mereka kembali bermain. Banyak pengalaman baru yang Said dapatkan yang
tidak pernah diperolehnya dalam istana. Sore hari Said pamit pulang kepasa Suhail.
Sebelum pulang ia berkata kepada Suhail, “ Pergilah ke kota, lalu berikan
kertas ini kepada tentara yang kamu temui disana. Ia akan mengantarkanmu ke
rumahku.”
Suhail
menjawab, “Insyaa Allah, aku akan datang ke istana.”
Keesokan
harinya Suhail pergi ke kota dan menuruti perintah Said. Ia tidak membayangkan
bahwa ia akan pergi ke istana yang megah dan indah. Rupanya Said adalah anak
raja. Pada awalnya, ia merasa ragu ketika hendak masuk ke istana. Tetapi ,
karena mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, ia beranikan
dirinya untuk masuk ke istana.
Said memeluk Suhail dengan hangat. Sebagaimana anak-anak lainnya, Said pun menguji Suhail.
Ia membiarkan Suhail menunggu sangat lama. Meskipun begitu, Suhail tidak merasa
lapar, karena ia sudah terbiasa tidak makan bahkan sering berpuasa. Selama
menunggu, ia tidak memikirkan tentang makanan sama sekali. Ia hanya berpikir
bahwa andai saja semua anak bangsawan itu sebaik Said.
Sekian lama
menunggu, akhirnya terhidanglah tiga butir telur rebus. Said mempersilahkan
Suhail untuk makan duluan. Suhail mengambil sebutir telur dan mengupasnya
secara perlahan. Sementara itu, Said mengupasnya dengan cepat dan menyantapnya.
Kemudian Said sengaja mengambil telur yang ketiga. Ia mengupasnya dengan cepat
dan segera ia lahap telur terakhir itu. Padahal Suhail baru saja selesai
mengupas telurnya.
Setelah itu, Said
memperhatikan tindakan Suhail. Ia mengambil pisau, lalu membagi telur tersebut
menjadi dua. Setengah telurnya diberikan kepada Said, sedangkan setengah telur
lainnya dimakannya. Tak ayal lagi, Said menangis terharu melihatnya. Kemudian,
ia memeluk Suhail seraya berkata, “Kamu adalah teman sejatiku. Kamu ialah
temanku yang akan mengantarkanku menuju surga.”
Sejak itu
mereka berteman sangat akrab. Mereka saling menyayangi dan menghormati karena
Allah Swt. Lantaran kekuatan tali persaudaraannya itulah, mereka sempat
bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama
yang ada di Turki, Syria, Syam, Mesir dan Yaman.
Setelah raja
meninggal dunia, Said menggantikan posisi Ayahnya sebagai raja. Dan menteri yang
pertama kali dipilihnya adalah Suhail. Bagi Said, Suhail adalah teman
seperjuangan dan penasihat raja yang tiada bandingannya.
En, said dan suhail banget nama nya? Haha jadi keinget yg di group. Tp sangat menginspirasi cerita nya ;)
BalasHapushaha soalnya namanya pas di masukin kecerita mba deb. ;)
Hapuswih, bagus nih buat cerita anak. coba aja en, masuk masukin naskah buat cerita anak di majalah anak,,, ini contoh naskah cerita yang baik buat anak...salamin sama said dan suhel ya :)
BalasHapussyukron sarannya bang fari. Siap pasti isalamin :)
Hapusrumus sederhana, menantang prakteknya. bagus, Eni.
BalasHapusiyap mas rifqy. rumus sederhana, menantang prakteknya. Syukron :)
HapusAda nama suhailnya :v
BalasHapusBagus eni, kalo kata rifqy, "Rumus sederhana. Menantang prakteknya". Perhatikan aja lagi typo nya
Siap bang! :)
Hapus